Artikel

Cara Perawatan Cabai Super Irit: Hemat Biaya, Panen Istimewa

Cara Perawatan Cabai Super Irit: Hemat Biaya, Panen Istimewa


Karlina Indah / 11 Oct 2025

Setelah sebelumnya kita membahas cara mencegah kematian cabai ala Mbah Bandi, petani senior asal Muntilan yang sudah puluhan tahun menekuni budidaya cabai, kini kita akan melanjutkan kisah inspiratif beliau pada tahap berikutnya, yaitu cara perawatan cabai.
Kalau kamu belum membaca artikel sebelumnya, sangat disarankan untuk membacanya lebih dulu agar memahami dasar-dasar penting yang membuat tanaman cabai Mbah Bandi tahan layu dan minim kematian. (Baca di sini) Nah, pada artikel lanjutan ini, kita akan menyoroti bagaimana Mbah Bandi merawat tanaman cabainya dengan cara yang sederhana namun hasilnya luar biasa. Tidak ada pupuk kimia mahal, tidak ada perlakuan rumit, tetapi hasilnya bikin takjub: tanaman sangat subur dan buah lebat. Rahasianya ternyata terletak pada konsistensi dan ketepatan waktu perawatan, mulai dari pemupukan, pengairan, hingga cara Mbah Bandi membaca tanda-tanda kebutuhan tanaman. Semua dilakukan dengan prinsip hemat tapi tepat sasaran. Yuk, kita pelajari satu per satu bagaimana Mbah Bandi merawat cabainya, simak pembahasannya di bawah ini!

Perawatan Sederhana Ala Mbah Bandi

Perawatan cabai ala Mbah Bandi memang dikenal sederhana, tapi sangat efektif. Beliau hanya melakukan pupuk kocor di awal tanam sebanyak tiga kali, menggunakan pupuk Calha dengan interval seminggu sekali. Tujuannya bukan hanya memberi nutrisi awal, tetapi juga menstabilkan pH tanah. Awalnya pH tanah di lahan Mbah Bandi hanya sekitar 5,5, namun setelah tiga kali kocor Calha, pH perlahan naik menjadi 6,5 , kondisi ideal untuk pertumbuhan akar dan penyerapan unsur hara. Setelah itu, pada umur 21 hari setelah tanam (HST), Mbah Bandi memberi pupuk susulan menggunakan Phonska sebanyak 1,5 kwintal untuk 7.200 tanaman cabai. Jika dihitung dosis pertanaman sekitar 21 gram (1,5 kwintal = 150 kg → 150.000 gram ÷ 7.200 tanaman). Pupuk Phonska merupakan pupuk majemuk NPK dengan komposisi 15% Nitrogen (N), 15% Fosfor (P?O?), 15% Kalium (K?O), dan 10% Sulfur (S). Nitrogen (N) berperan merangsang pertumbuhan daun dan batang. Fosfor (P) membantu pembentukan akar dan bunga. Kalium (K) memperkuat batang serta meningkatkan ukuran dan warna buah. Sulfur (S) berfungsi menyeimbangkan metabolisme tanaman dan membantu pembentukan protein. Pupuk Phonska diberikan dengan cara tugal yaitu membuat lubang kecil di sekitar pangkal batang, lalu pupuk dimasukkan ke dalamnya. Menurut Mbah Bandi, metode ini membuat pupuk lebih awet, tidak mudah menguap, dan terserap secara bertahap oleh akar.
Untuk membantu pelarutan pupuk, Mbah Bandi rutin mengairi bagian bawah bedengan setiap lima hari sekali. Frekuensi ini dianggap paling ideal karena air cukup untuk melarutkan pupuk tanpa membuat tanah terlalu lembap. Jika terlalu basah, pupuk mudah hanyut dan akar bisa kekurangan oksigen. Sebaliknya, jika terlalu kering, pupuk sulit larut dan tidak terserap sempurna.

Selain perawatan pemupukan dengan cara tugal, Mbah Bandi juga sangat telaten dalam program penyemprotan tanaman cabai. Beliau membedakan perlakuan antara fase vegetatif (pertumbuhan daun dan batang) dan generatif (pembungaan dan pembentukan buah). Pada fase vegetatif, penyemprotan dilakukan seminggu sekali secara rutin. Insektisida yang digunakan adalah Abamektin, berfungsi untuk mengendalikan hama penghisap seperti thrips, tungau, dan kutu daun yang sering menyerang pucuk muda. Fungisida menggunakan bahan aktif Propineb, fungisida kontak yang efektif mencegah serangan jamur penyebab bercak daun dan busuk batang. Selain itu, beliau menambahkan nutrisi daun berupa Morden Fol dengan dosis 2 tutup botol /tangka dan Ultradap, untuk membantu mempercepat pertumbuhan vegetatif. Hasil kombinasi kedua pupuk tersebut terlihat nyata, pupus cabai tumbuh maksimal, daun lemas, hijau segar, dan pertumbuhan tanaman merata.

Memasuki fase generatif, pola penyemprotan berubah menjadi setiap 5 hari sekali, dengan fokus menjaga bunga dan buah agar tidak rontok. Insektisida yang digunakan adalah Sumo dengan bahan aktif Dimetoat, ampuh untuk mengendalikan lalat buah yang sering menyebabkan buah busuk dari dalam. Fungisida diganti dari jenis kotak ke Tridium, karena menurut Mbah Bandi hasilnya lebih maksimal. Tridium mengandung tiga bahan aktif sekaligus sehingga mampu melindungi tanaman dari berbagai jenis jamur penyebab busuk buah dan bercak daun. Untuk nutrisinya, beliau mengganti Morden menjadi Kalinet. Pupuk daun ini kaya unsur Kalium dan Boron, membantu pembentukan bunga, buah lebih berbobot, dan mempercepat proses pematangan buah hingga berwarna merah sempurna. Bisa untuk mengejar harga, karena kebetulan saat ini Cabai Merah Keriting harganya sedang tinggi.

Kisah dan cara bertani ala Mbah Subandi bukan sekadar tentang teknik, tapi tentang sikap dan ketulusan dalam merawat tanaman. Di usianya yang sudah 70 tahun, beliau masih turun ke lahan setiap, merawat tanaman dengan tangannya sendiri. Semua dilakukan dengan niat senang dan Ikhlas. Mbah Bandi sering berpesan, “Kalau kita memberikan yang maksimal untuk tanaman, tanaman juga akan memberikan hasil yang maksimal untuk kita.” Pesan sederhana itu sebenarnya sangat dalam. Dalam dunia pertanian, hasil besar tidak selalu datang dari modal besar, tapi dari ketekunan, keikhlasan, dan ketepatan cara. Buat para petani muda atau yang masih ragu untuk terjun ke dunia tani, jangan kalah sama semangat Mbah Bandi. Di tangan orang yang mau belajar dan konsisten, tanah yang dulu dianggap biasa bisa jadi sumber rezeki luar biasa. Pertanian bukan profesi yang tertinggal, tapi justru masa depan yang menjanjikan kalau dijalani dengan hati dan inovasi. Mari kita lanjutkan semangat Mbah Bandi, bertani dengan hati, bekerja dengan totalitas, dan menuai hasil dengan rasa syukur. Karena seperti kata beliau, “Tanaman itu tahu siapa yang merawatnya.”


Rekomendasi Produk :
MORDENFOL
KALINET
CAL-HA