Budidaya Cabai: Lebih dari Sekadar Gundukan, Membangun Bedengan Cabai Tanpa Pupuk Kimia
Karlina Indah / 19 Apr 2025
Budidaya cabai tidak lepas dari adanya kendala, baik karena faktor alam ataupun faktor hama dan penyakit tanaman. Apalagi di musim seperti ini, yang tiba – tiba panas seperti kemarau, kemudian hujan berhari – hari seperti musim penghujan. Keluhan yang sering di sampaikan petani saat ini yaitu baru pindah tanam tapi sudah butuh sulam. Atau kendala pada saat tanaman sudah berbuah seperti busuk buah Antraknosa. Selain karena keberuntungan dan atas izin Tuhan, beberapa kendala tersebut sebenarnya bisa diminimalisir dengan beberapa perlakuan yang di lakukan di bagian bawah tanaman atau di bawah mulsa. Pak Supi merupakan salah satu petani asal Kecamatan Guntur Kabupaten Temanggung yang saat ini memiliki tanaman Istimewa, buah menawan dan minim serangan hama ataupun penyakit, padahal beliau menanam di bulan November saat intensitas hujan masuk di puncak tertinggi. Jumlah tanaman yang dimiliki pak Supi yaitu 3.400 tanaman yang saat ini sudah petik 3x dengan interval petik 3 hari sekali, Emmmm menggiurkan bukan Sobat Mitra Bertani. Berikut merupakan kondisi tanaman cabai Pak Supi saat ini:
Bedengan: Fondasi kunci kesuksesan dalam Bertani
Dalam dunia pertanian, khususnya budidaya cabai, banyak petani pemula yang langsung fokus pada benih, pupuk, atau pestisida. Padahal, ada satu hal mendasar yang tak boleh diabaikan yaitu bedengan. Bedengan bukan sekadar gundukan tanah, tapi merupakan fondasi awal yang menentukan sehat tidaknya pertumbuhan tanaman cabai ke depan. Bedengan ala pak Supi ini bisa di katakan unik. Bagaimana tidak, pak Supi membuat bedengan dengan ukuran yang relative besar dan jarak antar bedengan yang sangat lebar. Pemilihan ukuran ini bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari pengalaman. Setelah puluhan kali menanam cabai, ternyata ukuran bedengan ini yang paling menguntungkan. Faktanya dengan luas lahan yang saat ini hanya di tanami 3.400 tanaman hasilnya bisa lebih dari jumlah tanaman yang sebelumnya beliau tanam, yaitu 6.500 tanaman. Dari pengalaman ini bisa di ambil pesan bahwa tidak harus banyak, sedikitpun bisa maksimal asal ilmunya benar. Berikut contoh bedengan ala Pak Supi:
Ukuran mulsa yang pak Supi gunakan yaitu 160 cm dan mulsa ini digunakan untuk menutup seluruh bagian bedengan, sampai bagian bawah menyentuh tanah terbawah. Dengan cara ini bertujuan supaya pupuk yang digunakan benar - benar terserap tanaman, tidak ada penguapan pupuk jadi pemberian pupuk lebih termanfaatkan secara maksimal. Pemasangan mulsa juga sangat kencang, dengan tujuan supaya tidak banyak air yang masuk ke dalam bedengan sehingga di musim hujan masalah lahan tergenang tidak akan terjadi. Model pembuatan bedengan seperti ini bisa diterapkan di semua musim, baik musim kemarau atupun musim penghujan.
Langkah – langkah pembuatan bedengan yang dilakukan pak Supi yaitu pertama mengumpulkan rumput dan seresah, kemudian di masukan di tengah bedengan setengah jadi. Selanjutnya langsung di tutup menggunakan tanah. Apabila Sobat Mitra Bertani belum yakin dengan cara ini rumput yang digunakan terdekomposisi sempurna, maka bisa di tambah dengan kocor decomposer seperti M21 ataupun EM4. Langkah terakhir yaitu penutupan mulsa dan pendiaman lahan. Berapa lama waktu pendiaman lahan yang ideal? Menurut Pak Supi apabila rumput yang digunakan merupakan rumput yang masih hijau dan segar, pendiaman lahan bisa 2 bulan. Namun apabila rumput yang digunakan sudah kering pendiaman lahan bisa lebih lama sekitar 3 bulan. Kuncinya apabila tidak tergesa-gesa, semakin lama pendiaman lahan semakin baik. Pak Supi juga menjelaskan bahwa antara rumput yang basah dengan rumput kering ternayata kandungannya berbeda, Rumput yang baru dipotong dan masih hijau mengandung zat-zat aktif alami yang mendukung pertumbuhan tanaman, seperti: Auksin, Giberelin dan Sitokinin yang jelas bermanfaat bagi tanaman. Sedangkan rumput yang sudah kering, seperti jerami atau rumput lapangan yang dibiarkan lama, mengalami penurunan kandungan hormon tumbuh karena: Hormon alami rusak oleh panas dan oksidasi serta kadar air hilang yang membuat metabolisme sel rumput berhenti. Tapi jangan salah, rumput kering tetap berguna, terutama: Sebagai bahan kompos kaya karbon (C) dan bisa diurai untuk menghasilkan asam humat dan fulvat yang bagus untuk merangsang akar
Bahan yang digunakan Pak Supi sebagai pondasi ini memang unik, kebanyakam petani menggunakan pupuk kandang, tapi Pak Supi menemukan inovasi baru yang jelas lebih hemat dan tidak perlu mengeluarkan biaya. Rumput yang digunakan ini nantinya akan menjadi bahan organic sumber makanan bagi tantara bawah tanah sisa pertanaman sebelumnya seperti Trichoderma sp ataupun sumber makanan bagi mikroba asli di lahan tersebut. Selain itu, rumput tersebut juga sebagai bahan organic yang dapat menggemburkan dan menyuburkan tanah. Apabila lahan subur dan sehat harapannya tanaman juga sehat, sehingga walaupun ada serangan hama ataupun penyakit bisa diminimalisir dan pengendaliannya pun lebih mudah.
Bedengan bukan hanya tempat menanam cabai, tapi fondasi hidupnya tanaman. Tanpa bedengan yang baik, akar mudah busuk, tanaman rentan penyakit, dan hasil panen pun jauh dari maksimal. Jadi, sebelum bicara soal pupuk atau varietas benih, pastikan Sobat Mitra Bertani punya bedengan yang rapi, gembur, dan sehat, itulah pondasi kunci bertani cabai yang sesungguhnya. Bertani cabai memang menantang, tapi dengan persiapan yang matang, keuntungan pun bisa berlipat ganda. Demikian artikel ini, selamat mencoba dan semoga berhasil. Jangan lupa saksikan penjelasan lengkap mengenai Fondasi dalam Bertani, hanya di video ini.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |
Tags : |
|---|
| Lain-lain |
Rekomendasi Produk : |
|---|
| POWERSOIL |