Benih Cabai Tahan Virus: Apakah Benar 100% Tahan terhadap Virus Kuning?
Karlina Indah / 14 Feb 2025
Virus kuning disebabkan oleh Pepper Yellow Leaf Curl (PepYLCV) dari family geminiviridae, genus begomoviridae. Secara garis besar, gejala tanaman cabai yang terserang virus kuning, yaitu sebagai berikut :
- Helai daun mengalami perubahan warna, dimulai dari daun bagian pucuk berkembang menjadi kuning jelas.
- Tulang daun menebal dan menggulung ke atas.
- Jarak antara daun pada pupus sangat rapat.
- Daun mengecil, tanaman kerdil, dan tidak berbuah.
Salah satu faktor yang berperan penting dalam penyebaran virus kuning yaitu adanya serangga kutu kebul sebagai vektor atau perantara penyebaran virus. Kutu kebul termasuk dalam kelompok serangga penusuk penghisap. Kutu kebul dan hubungannya dengan virus kuning cabai ini bersifat persisten. Kutu memperoleh virus ketika dia mengambil makanan dari tanaman yang telah terinfeksi. Virus yang diambil dari tanaman sakit beredar melalui saluran pencernaan, menembus dinding usus, bersirkulasi dalam cairan tubuh serangga dan selanjutnya kelenjar saliva. Pada saat dia menghisap makanan dari tanaman sehat, virus ikut masuk ke dalam tubuh tanaman bersama dengan cairan dari mulut serangga tersebut. Setelah virus masuk ke dalam tanaman, maka hal pertama yang akan virus lakukan adalah memperbanyak dirinya sehingga jumlah mereka mencukupi untuk menguasai tubuh tanaman. Virus harus mempertahankan tanaman inangnya untuk tetap hidup, karena mereka membutuhkan energi dari tanaman inang untuk proses hidupnya.
Apa yang menyebabkan warna daun kuning setelah terinfeksi virus?
Warna kuning pada daun tanaman yang terinfeksi terjadi karena pembentukan klorofil terhambat sehingga laju pembentukan klorofil sama atau lebih kecil dibandingkan dengan laju degradasi klorofil. Selain itu, kandungan nitrogen daun pada tanaman terinfeksi lebih rendah dibandingkan dengan daun tanaman yang tidak terinfeksi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tanaman yang terinfeksi virus lebih banyak mengalokasikan nitrogen untuk bertahan dan berkembang biak virus dalam tubuh tanaman. Apabila jumlah nitrogen dalam daun rendah dan tanaman terkena cahaya matahari dengan intensitas tinggi maka daun akan mengalami penurunan klorofil sehingga daun berwarna kuning.
Tanaman cabai yang sudah terinfeksi tidak dapat lagi dikembalikan menjadi tanaman sehat meskipun dengan pemberian pupuk yang melebihi dosis anjuran, Yuk, ikuti langkah-langkah di bawah ini supaya tanaman sehat terhindar dari virus kuning:
- Menanam jagung di sekeliling lahan cabai sebagai tanaman penghalang masuknya kutu kebul.
- Rutin melakukan sanitasi karena beberapa gulma, seperti krokot dan babandotan, dapat menjadi inang sementara kutu kebul bahkan bisa juga terserang virus kuning.
- Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang virus kuning.
- Menggunakan agen pengendali hayati yang dapat membunuh serangga vektor, seperti beauveria bassiana. Selain itu juga bisa menggunakan insektisida nabati, seperti insektisida dari daun nimba.
- Menggunakan insektisida kimia yang dapat mengendalikan kutu kebul, seperti insektisida berbahan aktif imidakloprid, abamektin, atau diafentiuron. Penggunaan insektisida kimia ini harus sesuai dengan dosis anjuran ya, dan sebisa mungkin di lakukan perolingan bahan aktif guna menghindari adanya resistensi bahan aktif.
Selain cara – cara di atas, cara instan yang selalu di pilih petani yaitu dengan menggunakan benih tavi atau benih tahan virus, contoh varietasnya seperti ABSOLUT 69, ANGKASA 89 dan DRONE TAVI. Teruntuk Sobat Mitra Bertani yang pengen tahu penjelasan lengkap mengenai benih tahan virus bisa di baca di penjelasan berikut ini:
Benih cabai tahan virus apakah 100% tahan virus?
Adakah Sobat Mitra Bertani yang pernah menggunakan benih tahan virus namun masih ada tanaman yang terkena virus kuning? Hal tersebut normal ya Sobat Mitra Bertani semua. Sebenarnya produk benih yang dijual ke pasar merupakan benih yang sudah teruji mutu. Disini kita perlu memahami bahwa tahan virus tidak sama dengan kebal virus. Kebal berarti 100% tidak bisa terserang virus, sedangkan tahan masih ada kemungkinan terserang pada tingkat tertentu, jika intensitas serangan melewati ambang batas ketahanan varietas.
Umumnya ketahanan terhadap virus diukur dari gejala serangan perbandingan antar varietas, tanpa mengetahui level dari tingkat serangan tersebut. Jika kemudian varietas tahan virus masih terserang virus, artinya intensitas atau level serangannya tersebut diatas ambang atau batas ketahanan varietas. Seperti contoh benih cabai varietas Absolut 69 yang memiliki tingkat ketahanan virus antara 98,6 % - 99,6% yang artinya dari 1 bungkus benih yang berisi 2000 butir maksimal terdapat 28 tanaman yang terserang virus kuning. Sedangkan cabai varietas Angkasa 89 memiliki tingkat ketahanan virus antara 99,7 % - 99%, artinya dalam 1 bungkus maksimal terdapat 20 tanaman yang terserang virus kuning. Contoh nyata adanya tanaman yang terserang virus padahal sudah menggunakan benih tahan virus bisa di lihat di gambar berikut ini :
Lantas kalau begitu apa bedanya benih cabai tahan virus dan cabai non tahan virus jika masih terserang virus kuning? Tentu berbeda, karena kalau kita menanam benih cabai tahan virus saja terserang, apalagi benih cabai biasa. Menanam cabai tahan virus kalau terserang pun masih mempunyai peluang untuk bisa panen, dengan persentase lebih besar dibandingkan cabai biasa, sedangkan menanam cabai biasa atau non tahan virus bisa jadi gagal panen total. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa serangan virus kuning ini ternyata berpengaruh nyata terhadap penurunan berat, diameter dan ketebalan daging buah cabai. Oleh karena itu, mulai sekarang Sobat Mitra Bertani semua harus bijak dalam pemilihan benih ya. Mau tanaman terbebas dari virus kuning? Ya benih tahan virus jawabannya.
Cari
KATEGORI : |
|---|
| Berita Inspirasi |
| Solusi Masalah |
| Kiat Pertanian |
| Pengetahuan |
Rekomendasi Produk : |
|---|
Tags : |
|---|
| Lain-lain |